Arab Saudi Mempertimbangkan Ibadah Haji Tahun Ini Tanpa Jemaah Luar Negeri Lagi

kabah

Ratusan jemaah Muslim mengelilingi Ka’bah, bangunan berbentuk kubus di Masjid Al Haram, sembari menerapkan jaga jarak sosial untuk melindungi diri dari virus corona, di kota suci Muslim di Mekkah, Arab Saudi, Rabu, 29 Juli, 2020.(AP/STR)

Sinarkeprinews.com.DUBAI-Arab Saudi tengah mempertimbangkan untuk melarang jemaah haji luar negeri untuk tahun kedua berturut-turut. Pertimbangan itu muncul karena kasus Covid-19 meningkat secara global, dan kekhawatiran akan munculnya varian baru, dua sumber yang mengetahui masalah tersebut mengatakan kepada Reuters pada Rabu (5/5/2021).

Langkah tersebut akan membatasi ziarah ke Mekkah. Meski warga negara Arab Saudi dan penduduk kerajaan tersebut, masih diizinkan jika sudah divaksin, atau telah pulih dari Covid-19 setidaknya beberapa bulan sebelumnya. “Sementara ada diskusi tentang kemungkinan larangan dilakukan, (tapi) belum ada keputusan akhir apakah akan menerapkannya,” kata mereka. Dua sumber yang mengetahui masalah ini mengatakan, otoritas Saudi awalnya sempat berencana mengizinkan sejumlah jemaah haji yang sudah divaksin dari luar negeri. Tetapi karena adanya kebingungan tentang jenis vaksin, kemanjurannya, dan kemunculan varian baru. Hal ini mendorong para pejabat mempertimbangkan kembali kebijakannya. Kantor media pemerintah tidak menanggapi permintaan komentar dari Reuters. Infeksi Covid-19 masih meningkat di 35 negara secara global. Setidaknya ada 153.508.000 infeksi dan 3.351.000 kematian yang dilaporkan akibat varian baru virus corona sejauh ini.

India memimpin dunia dalam jumlah rata-rata harian kematian baru yang dilaporkan. Terhitung satu dari setiap empat kematian yang dilaporkan di seluruh dunia setiap hari berasal dari negara Asia Selatan itu. Kerumunan jutaan peziarah dari seluruh dunia bisa menjadi sarang penularan virus. Di masa lalu beberapa jemaah telah kembali ke negara mereka dengan penyakit pernafasan dan penyakit lainnya. Pada Februari, pemerintah Kerajaan Saudi memberlakukan larangan masuk dari 20 negara. Aturan itu tidak berlaku untuk diplomat, warga negara Saudi, praktisi medis, dan keluarga mereka, untuk membantu mengekang penyebaran virus corona baru. Larangan yang masih berlaku hingga saat ini, mencakup orang-orang yang datang dari Uni Emirat Arab, Jerman, Amerika Serikat, Inggris, Afrika Selatan, Perancis, Mesir, Lebanon, India, dan Pakistan. Arab Saudi, yang mempertaruhkan reputasinya dalam menjaga situs-situs suci Islam di Mekkah dan Madinah, melarang orang asing untuk menunaikan ibadah haji tahun lalu, karena pandemi. Itu merupakan kali pertama dalam sejarah modern kerajaan Saudi. Pada gilirannya, hanya sejumlah kecil warga Saudi dan penduduk yang masih dipebolehkan menjalankan menjalankan ibadah di sana.

Sebelum pandemi Covid-19, sekitar 2,5 juta jemaah biasa mengunjungi situs-situs paling suci Islam di Mekkah dan Madinah untuk haji dan umrah sepanjang tahun. Secara keseluruhan tradisi ini menghasilkan pemasukan bagi kerajaan Arab Saudi sekitar 12 miliar dollar (Rp 171,8 triliun) dalam setahun, menurut data resmi yang dikutip Reuters. Sebagai bagian dari rencana reformasi ekonomi yang dilakukan oleh Putra Mahkota Mohammed bin Salman, Kerajaan Saudi berharap meningkatkan jumlah jemaah umrah dan haji masing-masing menjadi 15 juta dan 5 juta pada 2020. Jumlah umrah diharap dapat digandakan lagi menjadi 30 juta pada 2030. Dengan itu Saudi bisa mendapat 50 miliar riyal (13,32 miliar dollar AS) setara Rp 190,7 triliun pendapatan dari haji saja pada 2030. (Kompas.com)

BAGIKAN :

0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Baca Juga

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x